Blora (INFO MEDIA) – Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora, Kiswoyo, mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengembangkan usahanya.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu UMKM dalam berbagai aspek, mulai dari mencari tren pasar, membuat desain produk, hingga menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.
“UMKM Blora harus berani berinovasi dan beradaptasi. Dengan AI, kita bisa lebih cepat mencari informasi, membuat desain produk yang menarik, serta menyusun strategi pemasaran sesuai kebutuhan pasar saat ini,” kata Kiswoyo, Senin (25/8).
Ia menegaskan, dorongan ini sejalan dengan arahan Menteri Perdagangan yang menargetkan peningkatan daya saing UMKM agar mampu menembus pasar ekspor.
Saat ini, rasio wirausaha di Indonesia masih 3,47 persen, lebih rendah dibandingkan Malaysia dan Thailand yang telah melampaui 4 persen.
Namun demikian, Kiswoyo mengakui UMKM di Blora masih menghadapi sejumlah kendala. Antara lain, keterbatasan sumber daya manusia, lemahnya akses jaringan internet di beberapa desa, serta rendahnya literasi digital pelaku usaha.
“Banyak pelaku UMKM yang belum terbiasa membaca data penjualan atau menyusun strategi pemasaran digital. Selain itu, konsistensi produksi, kualitas, dan kemasan produk juga perlu terus dijaga agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dindagkop UKM Blora menyiapkan sejumlah langkah praktis. Di antaranya membuka klinik pemanfaatan AI untuk UMKM bersama stakeholder terkait seperti Kadin, Hipmi, Hayat Institut, Kampus UMKM Shopee, serta GrabFood.
“Melalui klinik ini, UMKM bisa belajar membuat deskripsi produk, foto, hingga strategi pemasaran berbasis digital,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga melanjutkan program pendampingan e-commerce agar produk UMKM lebih mudah dipasarkan di berbagai marketplace.
Pendampingan juga difokuskan pada komoditas unggulan Blora seperti briket, kelor, serta mebel jati dan limbah jati agar lebih siap menembus pasar ekspor.
Lebih lanjut, Kiswoyo menekankan pentingnya mengoptimalkan peran koperasi desa dalam mengonsolidasikan produk sekaligus membantu akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
“Program ini tidak bisa langsung besar. Kita mulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kebutuhan UMKM, misalnya promosi dan kemasan. Yang penting, pelaku usaha Blora mau mencoba dan berani belajar teknologi,” tegasnya.
Ia menambahkan, dukungan dari Kadin dan Hipmi Blora juga sangat penting dalam mendorong pemanfaatan AI oleh UMKM.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci agar transformasi digital benar-benar bisa dirasakan pelaku usaha kecil di daerah.
“Kita harus berkolaborasi untuk memperluas pemahaman AI meski tantangan di lapangan tetap ada. Dengan kerja sama, semua hambatan bisa kita lewati bersama,” pungkasnya.
