Blora (Info Media) — Penulis Welda Sanavero (31), perempuan asal Desa Jiworejo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, merilis karya narrative art berbasis terapeutik yang diadaptasi dari bukunya The Sounds of Silence. Karya tersebut dipresentasikan melalui sebuah pertunjukan kolaboratif bersama Vigil Kristologus di Galeri Petronas, Malaysia, pada Sabtu (4/4).
Pertunjukan tersebut terselenggara melalui kolaborasi dengan komunitas seni Jingga Purnama yang dipimpin oleh Zuhairah binti Zamri.
Penampilan itu menjadi bagian dari rangkaian pameran yang juga menampilkan karya seniman Malaysia seperti Choong Kam Kow dan Sharifah Fatimah Syed Zubir.
Dalam keterangannya, W. Sanavero menyebut karya tersebut sebagai bagian dari upaya kultural untuk menghadirkan pendekatan baru dalam praktik sastra.
“Tidak ada misi khusus. Kami sebagai sastrawan hanya ingin berkarya lebih inovatif untuk mengambil peran dalam perjalanan panjang zaman, sembari tetap berpijak pada jati diri sebagai bangsa Timur,” kata Sanavero di Blora, Selasa.
Ia menjelaskan, melalui perpaduan sastra dan musik, karya tersebut menghadirkan pendekatan narrative medicine yang bertujuan membantu individu menyeimbangkan diri di tengah dinamika kehidupan modern.
“Melalui sastra dan musik, karya terapeutik ini merupakan upaya membangun kesadaran kolektif mengenai narrative medicine, cara menyeimbangkan diri di tengah kebisingan zaman melalui kecerdasan tubuh manusia itu sendiri,” ujarnya.
Rangkaian tur buku tersebut juga mendapat sambutan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Dalam pertemuan resmi pada 2 April 2026, tim diterima oleh Ministry Counsellor KBRI Kuala Lumpur Fery Iswandy bersama jajaran diplomat.
Fery Iswandy menyampaikan bahwa proyek seni tersebut turut mendukung upaya diplomasi kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia.
“Proyek ini secara nyata membantu kerja-kerja diplomasi kebudayaan. Harapannya, inisiatif seperti ini dapat terus dikembangkan dan memberi dampak positif bagi hubungan Malaysia–Indonesia,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan kurator pameran What Song Do You Hear From This Painting, Jamal Afiq Jamaluddin, yang menilai karya tersebut berhasil memadukan sastra dan musik dalam sebuah pengalaman artistik yang reflektif.
Menurut Sanavero, pemilihan instrumen tradisional Sape’ dalam pertunjukan tersebut juga memiliki makna simbolik.
“Dalam literatur Timur, Sape’ adalah instrumen yang bersifat kosmik. Ia tidak hanya menghasilkan bunyi, tetapi juga membuka ruang resonansi antara tubuh, batin, dan semesta,” ujarnya.
Melalui karya tersebut, Sanavero menegaskan praktik kepenulisannya yang tidak hanya berada di ranah teks, tetapi juga menjembatani sastra dengan seni performatif serta pendekatan penyembuhan berbasis narasi.
