Marni, Pejuang Gagal Ginjal Kronis yang Bertahan Berkat JKN

INFO MEDIA, BLORA – Di ruang hemodialisis RSUD dr. R. Soeprapto Cepu, Kabupaten Blora, tampak seorang perempuan paruh baya terbaring tenang di atas ranjang medis. Tubuhnya terhubung dengan mesin dialisis yang bekerja menyaring limbah metabolik dari darahnya.

Perempuan itu adalah Marni (51), warga Dusun Jumbung, Kecamatan Kedungtuban, yang telah menjalani prosedur hemodialisis secara rutin dua kali dalam sepekan sejak didiagnosis menderita gagal ginjal kronis pada awal tahun 2024.

“Tenaga saya tidak seperti dulu. Sekarang mudah lelah, persendian sering ngilu. Tapi saya harus kuat dan tetap semangat,” ucap Marni lirih sambil menatap kosong ke langit-langit ruang perawatan, Senin (21/7).

Diagnosis gagal ginjal kronis yang diterimanya mengubah seluruh aspek kehidupannya. Setiap minggu, Marni harus menjalani terapi hemodialisis dua kali agar kadar racun dalam tubuhnya tetap terkontrol. Ketidakhadiran dalam satu sesi saja dapat menimbulkan risiko serius.

“Ini bukan pengobatan jangka pendek, tapi seumur hidup. Kata dokter, kalau sekali saja tidak datang, racun bisa menumpuk dan bisa bikin saya pingsan. Saya pernah hampir tidak bisa bernapas sebelum tahu kondisi saya waktu itu,” kenangnya.

Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), Marni merasa sangat terbantu. Biaya satu kali prosedur hemodialisis dapat mencapai lebih dari satu juta rupiah. Tanpa dukungan JKN, ia mengaku tidak akan mampu membiayai pengobatan secara mandiri.

“Kalau dua kali seminggu, berarti delapan kali sebulan. Bisa delapan juta lebih. Dari mana saya dapat uang segitu? Suami saya kerja serabutan, kadang cukup buat makan saja sudah syukur,” ujarnya sambil menggeleng lemah.

Marni hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menjalani hidup sederhana di desa. Ia tak memiliki penghasilan tetap, dan pengobatan yang dijalaninya menjadi tantangan berat dari sisi fisik, mental, dan ekonomi. Namun, ia tak ingin menyerah.

“Kalau nggak ada BPJS (JKN), mungkin saya sudah berhenti berobat dari dulu. Atau mungkin malah sudah nggak ada sekarang,” ungkapnya, suara lirih bercampur haru.

Selain terbantu secara finansial, Marni juga mengapresiasi pelayanan kesehatan yang ia terima selama menjalani terapi di RSUD Soeprapto Cepu. Ia merasa dilayani dengan ramah, profesional, dan tanpa diskriminasi meskipun sebagai pasien PBI.

“Perawatnya sabar, dokternya juga baik. Setiap datang langsung ditangani, nggak pernah disuruh nunggu lama. Saya benar-benar merasa diperhatikan,” tuturnya.

Sejak menjalani hemodialisis, aktivitas harian Marni berubah drastis.

Ia tak lagi bisa bekerja berat atau bepergian jauh. Segala aktivitas harus disesuaikan dengan jadwal pengobatannya. Namun, ia tetap bersyukur atas setiap kesempatan hidup yang masih diberikan.

“Sekarang saya nggak bisa bantu banyak di rumah. Tapi masih bisa senyum buat anak dan cucu. Itu saja sudah cukup buat saya,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Bagi Marni, JKN bukan sekadar program pemerintah, melainkan penyambung hidup bagi masyarakat tidak mampu seperti dirinya. Ia berharap program ini terus berlanjut dan diperkuat, agar semakin banyak orang yang terbantu.

“Kalau ditanya apa yang paling saya syukuri sekarang, jawabannya adalah saya masih hidup, dan itu karena ada JKN. Tolong jangan pernah dihilangkan program ini. Masih banyak orang kecil yang menggantungkan hidupnya,” tegasnya.

Marni sadar bahwa dirinya bukan satu-satunya pasien yang berjuang melawan penyakit kronis.

Namun, ia percaya bahwa kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah hak semua orang, dan akses terhadap layanan kesehatan harus dijamin negara.

“Selama saya masih bisa duduk dan jalan, saya akan terus berobat. Saya akan terus bertahan. Karena sekarang saya tahu, saya tidak sendiri,” tutup Marni dengan mata berkaca-kaca, namun penuh semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!