Gen-AI Ubah Pola Pembelajaran, Kampus Hadapi Tantangan Baru

Khasanah Palupi Akbar, mahasiswi dari Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES Khasanah Palupi Akbar, mahasiswi dari Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES

Semarang (Info Media) – Perkembangan teknologi generative artificial intelligence (Gen-AI) mulai mengubah pola pembelajaran di perguruan tinggi, terutama dalam penugasan bahasa Inggris dan karya tulis akademik mahasiswa.

Universitas Negeri Semarang melalui Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa menilai kemajuan teknologi tersebut menghadirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya terkait keaslian karya mahasiswa.

Khasanah Palupi Akbar, mahasiswi dari Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES mengatakan penggunaan Gen-AI yang awalnya dimanfaatkan untuk membantu menulis, menerjemahkan, hingga mencari ide tulisan kini memunculkan persoalan baru bagi dosen dalam menilai kemampuan asli mahasiswa.

Menurut dia, tulisan mahasiswa yang sebelumnya dapat menunjukkan perkembangan kemampuan bahasa kini bisa tampil lebih rapi dan akademis dengan bantuan teknologi AI.

“Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah perguruan tinggi masih menilai kompetensi bahasa mahasiswa atau justru kemampuan mereka memanfaatkan teknologi AI,” ujarnya, Senin (25/5/2026) di Semarang.

Ia menjelaskan banyak dosen saat ini tidak lagi mempertanyakan apakah mahasiswa menggunakan AI, melainkan sejauh mana teknologi tersebut digunakan dalam proses penyusunan tugas akademik.

Di sisi lain, upaya mendeteksi tulisan berbasis AI juga menghadirkan dilema etis tersendiri. Sejumlah dosen mulai memanfaatkan platform pendeteksi AI untuk memeriksa tugas mahasiswa, namun alat tersebut dinilai belum sepenuhnya akurat.

Beberapa sistem pendeteksi AI bahkan masih kerap menghasilkan kesalahan dengan mengategorikan tulisan asli manusia sebagai hasil buatan AI.

Fenomena tersebut dinilai menciptakan paradoks di lingkungan pendidikan tinggi. Dosen mengkritisi ketergantungan mahasiswa terhadap AI, tetapi pada saat yang sama juga menggunakan AI untuk memeriksa tugas mahasiswa.

Situasi itu dianggap menunjukkan mulai terkikisnya kepercayaan antara dosen dan mahasiswa. Kredibilitas tugas tertulis mahasiswa kini semakin sulit dipastikan hanya berdasarkan hasil akhir tulisan.

Karena itu, sejumlah akademisi mulai mendorong pendekatan penilaian alternatif dengan lebih menitikberatkan pada proses pembelajaran dibanding sekadar hasil akhir.

Metode yang mulai diterapkan antara lain penyusunan draft di kelas, jurnal refleksi, presentasi lisan, diskusi kolaboratif, hingga revisi bertahap.

Pendekatan tersebut dinilai memungkinkan dosen memantau perkembangan kemampuan berpikir mahasiswa secara lebih langsung dan autentik.

Selain itu, keberadaan AI di dunia akademik dinilai sulit dihindari sehingga tantangan perguruan tinggi saat ini bukan sekadar melarang penggunaan AI, melainkan mengajarkan pemanfaatannya secara etis dan transparan.

Sebagaimana kalkulator yang mengubah pembelajaran matematika tanpa menghilangkan pemahaman dasar, AI dipandang dapat mengubah metode pengajaran menulis tanpa menghapus pentingnya kemampuan berpikir kritis dan berekspresi.

Perguruan tinggi kini dinilai berada di persimpangan jalan. Jika terlalu bergantung pada alat pendeteksi AI, budaya pengawasan berbasis teknologi dikhawatirkan menjadi hal yang lumrah di dunia pendidikan. Sebaliknya, jika mengabaikan perkembangan AI, integritas akademik berpotensi semakin melemah.

Karena itu, masa depan asesmen kemampuan menulis mahasiswa dinilai tidak hanya bergantung pada kemampuan mendeteksi AI, tetapi juga pada upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong mahasiswa berpikir dan menulis secara mandiri.

Penulis: Khasanah Palupi Akbar, mahasiswi dari Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!