Kepatuhan FKRTL Jadi Sorotan, BPJS Ajak Semua Faskes Bergerak Bersama

Pati, Jamkesnews – Upaya peningkatan mutu layanan Jaminan Kesehatan Nasional terus digencarkan oleh BPJS Kesehatan Cabang Pati. Melalui monitoring dan evaluasi indikator kepatuhan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), BPJS mencatat secara umum capaian kepatuhan rumah sakit di wilayah kerja Cabang Pati yang berada dalam tren positif sepanjang Januari hingga Mei 2025.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pati, Wahyu Giyanto menyebut bahwa hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar rumah sakit telah mencapai skor kepatuhan di atas 99 dari maksimal 100. Meski demikian, pihaknya menyoroti beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan seperti optimalisasi aplikasi Mobile JKN, I-Care, dan efektivitas waktu layanan.

“Sebagian besar FKRTL menunjukkan kinerja yang sangat baik. Namun kami tetap mendorong peningkatan terutama dalam pemanfaatan teknologi seperti antrean online dan i-Care JKN agar pelayanan makin sat set. Kami juga melihat pentingnya waktu layanan dikontrol, karena masih ada rumah sakit yang durasi pelayanannya melampaui standar waktu ideal 60 menit,” ujar Wahyu.

Pihaknya juga menyoroti masih adanya beberapa poli di sejumlah rumah sakit yang melayani pasien melebihi kapasitas HFIS yang telah disepakati. Hal ini dinilai bisa berpengaruh pada kualitas layanan, terutama dari sisi kecepatan dan ketepatan diagnosa.

“Kami paham kondisi di lapangan tidak selalu ideal, termasuk terkait keterbatasan SDM. Namun dengan komitmen bersama dan sinergi lintas pihak, tantangan itu bisa dikelola. Kami juga apresiasi rumah sakit yang terbuka terhadap umpan balik peserta dan terus berbenah. Ini bagian dari transformasi mutu layanan JKN,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RS Keluarga Sehat (KSH) Pati, Kelvin Sanjaya menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi rumah sakitnya saat ini adalah keterbatasan dokter spesialis yang tersedia. Hal ini berdampak pada beban layanan di beberapa poli yang akhirnya melampaui kapasitas.

“Memang masih ada poli yang dalam beberapa periode melayani lebih dari kapasitas yang tercatat di sistem. Ini bukan karena disengaja, tapi murni karena SDM dokter spesialis kami belum cukup untuk menjawab permintaan masyarakat yang tinggi,” terang Kelvin.

Kelvin juga menambahkan bahwa pihaknya secara internal telah membentuk tim mutu yang bertugas melakukan peninjauan berkala terhadap indikator kepatuhan, termasuk menindaklanjuti setiap keluhan yang masuk dari peserta.

“Kami tidak anti-kritik. Justru keluhan peserta jadi pintu masuk kami untuk tahu mana yang perlu dibenahi. Kami sangat berterima kasih dengan adanya inovasi dari BPJS Kesehatan seperti penggunaan i-Care, yang membantu dokter kami mengakses riwayat medis pasien secara lebih cepat dan akurat sehingga pelayanan jadi lebih efisien dan terarah,” pungkasnya.

Di sisi lain, Direktur RSUD dr. R. Soetijono Blora, Puji Basuki menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah strategis dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan sesuai dengan indikator yang ditetapkan BPJS Kesehatan.

“Monitoring berkala menjadi salah satu strategi utama kami. Setiap bulan kami lakukan evaluasi internal terhadap capaian indikator kepatuhan. Kami juga bentuk tim monitoring yang terpisah dari pelayanan, agar pengawasannya lebih objektif,” ujar Puji.

RSUD dr. R. Soetijono Blora menyampaikan komitmennya dalam mendukung pelaksanaan program JKN melalui penerapan berbagai strategi peningkatan mutu layanan yang berbasis pada indikator kepatuhan dari BPJS Kesehatan. Direktur RSUD Blora, Puji Basuki menyebut bahwa pihaknya secara konsisten melakukan evaluasi internal sebagai bentuk tanggung jawab terhadap standar pelayanan yang ditetapkan.

“Kami tidak menunggu teguran. Setiap bulan kami lakukan monitoring mandiri untuk memastikan bahwa seluruh unit pelayanan berjalan sesuai indikator. Mulai dari sistem antrean, tindak lanjut keluhan, pemutakhiran data tempat tidur, hingga capaian kepuasan peserta, semua kami pantau dengan ketat,” ungkapnya.

Peningkatan kualitas pelayanan menurutnya tidak bisa hanya dijalankan dari sisi manajemen, namun juga harus menjadi kesadaran kolektif seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit. Oleh karena itu, RSUD Blora mendorong keterlibatan lintas profesi dalam forum-forum mutu serta aktif memberikan edukasi kepada pasien agar proses pelayanan menjadi lebih terbuka dan partisipatif.

“Kami terus dorong pola kerja yang transparan dan terukur. Tidak hanya kepada staf internal, tapi juga dengan melibatkan peserta JKN secara aktif dalam proses evaluasi mutu. Survei kepuasan dilakukan rutin, dan setiap masukan dari pasien kami gunakan sebagai bahan perbaikan berkelanjutan,” jelas Puji.

Ia menegaskan bahwa upaya peningkatan mutu layanan bukan sekadar soal kepatuhan administratif semata, melainkan bentuk komitmen moral kepada masyarakat.

“Kami percaya bahwa mutu itu harus dirasakan. Bukan hanya dalam bentuk angka, tapi dalam bentuk layanan yang mudah, cepat, dan setara. Itulah yang sedang kami bangun dan perkuat terus di RSUD Blora,” tuturnya.

Dengan evaluasi rutin yang dilakukan BPJS Kesehatan dan komitmen nyata dari para direktur rumah sakit, diharapkan pelayanan JKN di wilayah Pati, Rembang dan Blora akan semakin responsif dan bermutu ke depannya. Tantangan boleh ada, tapi pelayanan yang berkeadilan dan berkualitas harus tetap jadi prioritas utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!