BLORA, INFOMEDIA.ID.
Per Juli 2022 angka prevalensi stunting di Kabupaten Blora berada di angka 21,5 persen. Oleh karenanya berbagai upaya dan terobosan pun terus dilakukan guna menekan/menurunkan angka stunting, termasuk halnya melakukan edukasi, sosialisasi, maupun sarasehan bagi remaja di Kecamatan Jepon Kabupaten Blora.
“Stunting dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat dekat. Stunting merupakan permasalahan tumbuh kembang anak yang berkaitan dengan gizi,” ungkap Ketua Forum Generasi Berencana (GenRe) Kecamatan Jepon, Dwi Febri Irawan, saat mengisi acara Sarasehan bersama Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), di Balai Desa Suko, Minggu (15/1).
Febri juga berharap kegiatan sarasehan edukasi hari ini semoga dapat bermanfaat bagi remaja – remaja di Kecamatan Jepon dan sekitarnya. Memahami, mengerti, dan mengenal bahaya stunting, pernikahan dini maupun bahaya Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), agar dapat terhindar.
“Mengantisipasi lebih baik. Mengenal, memahami, mengedukasi remaja tentang permasalahan stunting sedini mungkin,” kata Febri yang juga mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Ronggolawe (STTR) Cepu Blora, Fakultas Teknik itu.
Sementara, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Soko Kecamatan Jepon Blora, Sumarni menjelaskan bahwa setidaknya ada empat kasus stunting terjadi di desa ini.
Pihaknya sangat mendukung usia muda para remaja, anggota Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di Desa Soko, Desa Waru dan di desa desa lainnya, agar mempunyai rencana dimasa mendatang.
“Bersama sama, mari mencegah sedari mungkin,” terang Sumarni.
Bidan Desa setempat, Lusiana Widiastuti, A. Md, mengajak kepada adik adik semua untuk bisa bareng bareng mengatasi stunting, dengan cara mengetahui sedini mungkin bahaya stunting.
“Sebagai remaja tentunya harus menjadi remaja yang sehat. Salah satunya dengan rutin cek kesehatan berkala, mengikuti program – program Posyandu Remaja,” ungkap Lusiana Widiastuti. (Gun).
