Dua Tahun di Lintasan, Rendi Maulana Bawa Nama Blora di Drag Bike

Blora (Info Media) – Pembalap muda asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rendi Maulana (21), terus mengembangkan kariernya di ajang drag bike.

Selama sekitar dua tahun terakhir, Rendi aktif mengasah kemampuan bersama Cebol Club Garage, Semarang, sekaligus membawa nama Blora di berbagai lintasan balap.

Kecintaannya terhadap sepeda motor sejak kecil menjadi pintu masuk Rendi ke dunia racing. Sebelum turun ke lintasan, ia lebih dulu belajar mengutak-atik dan memahami karakter mesin dari bengkel di rumah.

Dari aktivitas tersebut, Rendi kemudian bergabung dengan Cebol Club Garage di Semarang dan mulai serius mengikuti kompetisi drag bike.

“Awalnya saya belajar dari bengkel rumah, kemudian ikut Cebol Club Garage di Semarang. Dari situ mulai ikut event dan sampai sekarang sudah sekitar dua tahun,” kata Rendi di paddock Tri Jaya Reborn BRS Racing, Sabtu (15/8/2026).

Selama dua tahun berkompetisi, Rendi tidak hanya tampil di sejumlah seri drag bike di Jawa Tengah, tetapi juga menjajal atmosfer balap di luar Pulau Jawa.

Salah satunya dengan turun di Kalimantan menggunakan Kawasaki Ninja 2-tak berkapasitas 155 cc dengan frame standar.

Pada DWS Dragbike Championship yang digelar bersama Ikatan Motor Indonesia (IMI) di lintasan nonpermanen Jalan Pemuda, Blora, Rendi turun di lima kelas dengan membawa bendera Tri Jaya Reborn X Cebol Club X Denza Studio.

Performa terbaiknya lahir di kelas Bebek Jupiter Bracket 8,5 detik. Mengandalkan nomor start 160, Rendi mengunci podium pertama setelah mencatat best time 8,526 detik, reaction time (RT) 0,316 detik, dan catatan 60 feet 2,064 detik bersama tim Taiwan Gank.

Catatan tersebut menunjukkan konsistensi Rendi dalam menjaga launch dan respons motor sejak start hingga melesat menuju garis finis.

Selain meraih kemenangan di kelas bracket, Rendi juga turun di kelas Ninja 2T 155 cc Sunmori Frame Standar. Ia mengamankan posisi kelima dengan torehan waktu 7,403 detik.

Di kelas Sport 2T Standar 155 cc Frame Standar, Rendi kembali masuk persaingan papan atas dengan finis di posisi keempat. Ia juga mengikuti kelas Satria FU 155 cc Fouring serta Bebek Jupiter Bracket 8,5 detik.

Bagi Rendi, turun di banyak kelas menjadi bagian dari proses mengasah race craft. Setiap motor memiliki karakter mesin, respons throttle, hingga setting yang berbeda sehingga pembalap dituntut mampu beradaptasi dengan cepat di lintasan.

“Kalau ikut balap itu persiapannya harus matang. Bukan hanya motor dan pembalap, tetapi juga teknis, biaya pendaftaran, transportasi, dan kebutuhan tim,” ujarnya.

Menurut dia, persiapan sebelum race menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga performa. Kondisi motor, kesiapan pembalap, setting mesin, hingga strategi saat start harus diperhitungkan agar mampu mencetak waktu terbaik.
Dukungan keluarga juga menjadi modal penting bagi Rendi untuk terus menekuni dunia balap.

“Orang tua bilang dijalani saja, yang penting hati-hati,” katanya.

Rendi berharap semakin banyak event drag bike resmi digelar di Blora dan daerah lainnya.

Menurut dia, kompetisi resmi tidak hanya menjadi ruang untuk mengejar podium dan catatan waktu, tetapi juga menjadi sarana pembinaan pembalap muda.

Keberadaan lintasan resmi, menurut dia, sekaligus dapat menjadi alternatif bagi anak muda yang memiliki hobi otomotif agar menyalurkan kemampuan di arena yang lebih aman dan terukur.

“Daripada balap liar, lebih baik balap resmi. Lebih aman, lebih seru, dan ramai,” ujarnya.

Rendi kini menargetkan dapat tampil lebih konsisten pada seri-seri berikutnya, memperbaiki catatan waktu, meningkatkan race craft, serta membawa nama Blora dan Jawa Tengah bersaing di level kompetisi drag bike yang lebih tinggi.

Sementara, Ketua IMI Blora Adiria mengatakan ajang tersebut menjadi wadah bagi para pemuda, khususnya yang memiliki hobi olahraga balap, agar dapat menyalurkan kegemarannya ke kegiatan yang lebih tepat dan bermanfaat.

“Ini menjadi wadah para pemuda, khususnya yang hobi olahraga balapan, agar dapat menyalurkan hobi mereka ke jalan yang lebih tepat dan bermanfaat,” ujarnya.

Menurut dia, DWS Dragbike Championship mempertandingkan 22 kelas dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 434 starter dari berbagai daerah, mulai dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan daerah lainnya.

Kelas yang diperlombakan mencakup sepeda motor dengan kapasitas mesin mulai 150 cc hingga 300 cc. Lintasan balap memiliki panjang 201 meter, ditambah lintasan pengereman sepanjang 201 meter, sehingga total panjang lintasan mencapai 402 meter.

Adiria menambahkan, pihaknya bersama IMI Jawa Tengah dan sejumlah pemangku kepentingan juga tengah mengkaji kemungkinan pembangunan sirkuit di Kabupaten Blora.

“Di sisi lain, kami juga sedang mengkaji bersama IMI Jateng dan stakeholder lainnya agar di Kabupaten Blora memiliki sirkuit, sehingga para pembalap dapat menyalurkan hobi mereka,” katanya.

Ia berharap keberadaan sirkuit permanen nantinya dapat menjadi pusat kegiatan olahraga otomotif sekaligus mendukung pembinaan pembalap muda di Kabupaten Blora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!