Blora, Infomedia.id – Membicarakan stunting tidak selalu harus dilakukan melalui penyuluhan yang serius dan penuh istilah kesehatan. Di Desa Purworejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, edukasi tentang stunting justru dikemas melalui permainan, alat peraga, dan kuis yang membuat para remaja lebih aktif mengikuti kegiatan.
Sebanyak 35 remaja Desa Purworejo mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar Program Studi Kebidanan Blora Program Diploma Tiga Poltekkes Kemenkes Semarang. Mereka dibekali pengetahuan mengenai stunting, gizi, kesehatan reproduksi, serta tumbuh kembang anak.
Sejak awal kegiatan, peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian diajak belajar menggunakan media edukasi visual berupa alat peraga sempoating.
Suasana semakin hidup ketika peserta mengikuti permainan kelompok dan kuis “True or False”. Dalam permainan tersebut, para remaja ditantang menentukan benar atau salah berbagai pernyataan seputar stunting, gizi, kesehatan reproduksi, serta pertumbuhan dan perkembangan anak.
Setiap jawaban kemudian dibahas bersama narasumber. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai alasan di balik jawaban tersebut sehingga permainan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman.
Pendekatan tersebut membuat materi kesehatan yang selama ini cenderung dianggap serius menjadi lebih mudah diterima oleh remaja.
Stunting Bukan Sekadar Masalah Anak
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak setelah lahir. Pencegahan justru dapat dilakukan jauh sebelum seseorang menjadi orang tua.
Masa remaja menjadi salah satu periode penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat, memenuhi kebutuhan gizi, serta meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi.
Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi remaja ketika kelak memasuki fase berkeluarga. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika masalah pertumbuhan sudah muncul, tetapi dipersiapkan sejak generasi muda.
“Remaja bukan hanya sasaran edukasi, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan. Ketika mereka memiliki pengetahuan yang baik tentang gizi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting, mereka dapat ikut menyebarkan informasi positif di lingkungannya,” ungkap tim pengabdian kepada masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang, Senin (10/8/2026).
Dari Peserta Menjadi Agen Perubahan
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemberian materi. Para remaja juga diarahkan untuk menjadi kader yang dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya, keluarga, dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan cara tersebut, informasi mengenai pencegahan stunting diharapkan tidak berhenti pada 35 peserta yang hadir, tetapi dapat menyebar lebih luas melalui lingkungan pergaulan mereka.
Setelah seluruh materi dan permainan selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan.
Salah seorang peserta mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan kegiatan edukasi kesehatan pada umumnya.
“Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, saya bisa lebih mengetahui tentang apa itu stunting beserta ciri-cirinya. Ada gamenya juga yang sangat seru dan menyenangkan. Materi yang disampaikan sangat jelas, sehingga kami lebih mudah mengerti dan siap berperan aktif mencegah stunting,” katanya.
Edukasi Kesehatan dengan Cara yang Lebih Dekat dengan Remaja
Kegiatan di Desa Purworejo tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan kepada remaja dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter mereka.
Permainan, diskusi, alat peraga, dan kuis membuat peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Cara tersebut juga memberikan ruang bagi remaja untuk bertanya, berdiskusi, sekaligus menguji pemahaman mereka terhadap informasi yang diterima.
Melalui pendekatan yang kreatif tersebut, para remaja diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.
Mereka juga diharapkan mampu menjadi bagian dari gerakan pencegahan stunting di tingkat masyarakat dengan mengajak lingkungan sekitarnya menerapkan pola hidup sehat, memperhatikan kecukupan gizi, memahami kesehatan reproduksi, dan menyebarkan informasi yang benar mengenai stunting.
Pada akhirnya, langkah sederhana berupa edukasi kepada 35 remaja di Desa Purworejo diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Sebab, membangun generasi bebas stunting tidak hanya dimulai dari penanganan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga dari mempersiapkan generasi muda yang sehat, berpengetahuan, dan siap membangun keluarga sehat di masa depan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan oleh Novita Ika Wardani, S.ST., M.Kes., Dr. Elisa Ulfiana, S.SiT., M.Kes., dan Dinar Indri Bakti Salsabila, S.Tr.Keb., M.Tr.Keb.
