BLORA, INFOMEDIA.ID.
KOMISI PEMILIHAN UMUM (KPU) Indonesia, hingga saat ini belum memutuskan sistem Pemilihan Anggota Legislatif di Pemilu 2024. Apakah menggunakan sistem proporsional terbuka atau proporsional tertutup. Meski 8 dari 9 Fraksi di DPR RI telah menolak Pemilu Legislatif 2024 menggunakan sistem proporsional terbuka yang diinisiasi sejumlah anggota Fraksi PDI-P. Tapi imbas dari pro-kontra ‘ocehan’ para wakil rakyat di Senayan itu, tak luput juga jadi perbincangan masyarakat di akar rumput.
Itu pula yang terjadi, saat dilakukan Sosialisasi Peningkatan Demokrasi Daerah, dengan tema “Peran Partai Politik Sebagai Pilar Demokrasi Indonesia, bersama Padmasari Mestikajati SIP, MSI anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Dapil Jateng V (Grobogan-Blora) baru-baru ini di Joglo Grend, Blora.
”Bapak-bapak ibu-ibu, lebih senang mana Pilegnya menggunakan sistem proporsional terbuka atau tertutup,” tanya Anggota Komisi C DPRD Jateng tersebut pada audien yang hadir diacara sosialisasi tersebut.
Dan sontak merekapun menjawab, pilih sitem proporsional terbuka. Seperti diungkapkan oleh Ulil dari Jepon. Pria yang sehari-hari itu berprofesi sebagai pendamping desa di Kecamatan Jiken, Blora itu menyebut lebih memilih sistem proporsioanal terbuka karena bisa mengenal langsung Caleg yang didukung.
“Jadi kalau Caleg yang dipilih itu nggak amanah langsung bisa dikuyo-kuyo,” jelas Ulil.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh beberapa peserta sosialisasi yang lain. Mereka mengatakan dengan memilih atau mencoblos nama Caleg langsung saja masih banyak masyarakat yang tidak mengenal dekat wakil rakyat yang dipilih, apa lagi dengan proporsonal tertutup yang hanya memilih partai politiknya saja.
“Seperti memilih kucing dalam karung,” paparnya, saat dilansir dari https://opinipublik.co/.
Melihat fenomena itu, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu mengingatkan agar masyarakat, khususnya di Blora untuk mempertimbangkan masak-masak dalam menentukan pilihan di Pileg 2024 nanti.
“Jangan sampai tergiur pada janji-janji, atau hanya tahu Calegnya saat sehari menjelang coblosan saja, tetapi lima tahun kemudian tak lagi pernah ketemu,” terang Padma, Minggu (19/2/2023).
Mengingat begitu krusialnya dalam menentukan pilihan dalam Pileg 2024 nanti, putri Bambang Sadono, politisi senior Partai Golkar itu mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan baik, serta menimbang-nimbang siapa Caleg yang bakal didukungnya nanti.
“Mumpung masih ada waktu satu tahun, kenali Bacaleg sejak sekarang supaya nanti tidak salah pilih saat di dalam bilik suara,” jelas Ketua KPPG Jawa Tengah.
Rajin Ke Daerah
Serasa menguatkan apa yang dipesankan koleganya dari Partai Golkar Jawa Tengah, Siswanto SPd, MH Ketua DPD Golkar Kab. Blora yang mendampingi Padmasari sosialisasi. Ia mengatakan, masyarakat Blora sangat beruntung dan berterima kasih memiliki wakil rakyat di DPRD Provinsi Jawa Tengah seperti Mbak Padma (panggilan Padmasari-red) yang rajin turun ke konstituen baik di Blora maupun Grobogan.
“Hampir setiap bulan satu atau dua kali, beliaunya itu datang ke Blora menemui masarakat. Dia datang, menyapa mendengarkan aspirasi dan ditindaklanjuti dengan memberikan bantuan kepada masyarakat,” jelas Wakil Ketua DPRD Blora tersebut.
Apa yang dilakukan oleh anggota Komisi C DPRD Provinsi Jateng itu tambah Siswanto sangat menginspirasi, dan bisa jadi panutan para kader ‘Partai Beringin’ dan pilihan masyarakat di Kota Sate di Pemilu 2024 nanti.
‘Politik’ Petani
Sementara dua politikus senior Partai Golkar ‘tik iyik‘ Blora, Drs. RM Yudhi Sancoyo, SE dan Dr. Bambang Sadono, SH, MH yang menjadi nara sumber si acara sosialisasi itu, menyoroti tentang ‘kacaunya’ kondisi perpolitikan di Indonesia akhir-akhir ini. Dikarenakan praktek demokrasi yang dijalankan tak lagi mengedepan hati nurani, tapi sudah menerapkan praktek dagang atau transaksional
“Orang masuk politik sudah seperti pedagang. Modal berapa terus nanti dapat berapa. Dan yang lebih membahayakan lagi untuk meraih jabatan politis, mereka rela melakukan segala cara. Maka tak heran, bila kemudian banyak politikus yang ‘tersesat’ masuk penjara,” jelas Bambang Sadono.
Maka sudah saatnya tandas putra Blora yang pernah jadi Calon Gubernur Jateng itu untuk terus menggelorakan semangat ‘Politik Petani’.
Petani itu, kata BS (panggilan akrab Bambang Sadono) sosok yang jujur dan iklas. Dia sangat santun, tidak saja dengan manusia tapi dengan alam yang menghidupinya.
Petani itu bekerja tidak pernah diperintah, hanya dengan isyarat alam. Misalnya hujan sudah datang, maka diapun lalu mengolah sawah untuk ditanami. Tak lupa mereka juga bersyukur, melakukan kenduri (bacaan) sebelum menanam padi dan juga saat akan panen. Mereka juga berbagi saat panen dengan warga desa lainnya yang membantu bercocok tanam.
“Jadi kalau ‘politik petani’ ini yang digunakan, tak akan terjadi politik transaksional. Karena politikus yang berjuang dengan ikhlas dan jujur, maka dia juga akan mendapat dukungan yang sama dari rakyat (masyarakat). Dan buahnya akan lahir politikus yang amanah, yang tanpa dimintapun dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, seperti petani dan alamnya, ” beber BS.
Maka menurut politikus senior Partai Golkar Jateng yang come back menjadi Bacaleg DPR RI Dapil Jateng III (Pati, Rembang, Grobogan dan Blora) ini, mengajak masyarakat melakukan gerakan orang baik harus masuk politik.
“Orang Baik, Memilih Politisi Baik,” tambahnya.
Hanya dengan cara ini menurut mantan Anggota DPR RI, DPD RI dan DPRD Jawa Tengah ini, kita bisa ikut memperbaiki ‘praktek’ demokrasi yang makin hari makin jauh dari cita-cita demokrasi yang di bangun faunding fathers bangsa.
Sedang mantan Bupati Blora dan Ketua DPD Partai Golkar Kab. Blora Yudhi Sancoyo mengingatkan agar masyarakat, khususnya di Blora benar-benar tidak keliru dalam menjatuhkan dukungan kepada caleg di Pemilu 2024 nanti.
“Jangan memilih kucing dalam karung. Karena kucing dalam karung itu bunyi meongnya sama. Tapi kalau nanti dibuka, ketahuan ternyata kucingnya jemburik, ” jelas Yudhi.
Yudi mengumpamakan, kalau masyarakat tidak mengenal betul caleg yang akan dipilih, apa lagi hanya tahu lewat baliho-baliho besar yang di pasang di pinggir jalan. Tak ubahnya, seperti memilih kucing dalam karung itu. Atau memilih Caleg yang jemburik “Jadi ya harus benar-benar dikenali. Syukur bisa lewat 5 M nya (Manusianya, Marketingnya, Mesin Partainya, Metodenya dan Money nya), ” jelasnya. (CP/Gun).
