Blora (Info Media) — Dosen Program Studi Kebidanan Blora Program Diploma Tiga Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) dengan skema kewirausahaan bagi alumni di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut diikuti 20 calon lulusan yang mendapatkan pembekalan mengenai pengolahan pangan lokal sekaligus pengembangan produk sebagai peluang usaha.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah KRILAKU (Keripik Labu Kuning), yakni camilan berbahan dasar labu kuning atau yang dikenal masyarakat Jawa Tengah, khususnya Blora, sebagai waluh. Kegiatan diawali dengan demonstrasi pembuatan KRILAKU.
Para peserta kemudian mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan keripik, mulai dari pemilihan bahan baku, pengirisan, penggorengan, hingga teknik pengemasan agar produk memiliki tampilan menarik dan layak dipasarkan.
Selain keterampilan produksi, peserta juga mendapatkan materi “Branding Produk untuk Usaha Mikro”. Materi tersebut membahas pentingnya identitas merek, desain dan estetika kemasan, serta strategi pemanfaatan media sosial untuk memperluas pemasaran dan meningkatkan daya saing produk UMKM.
Olah Pangan Lokal Jadi Camilan Bernilai Ekonomi
Pengembangan KRILAKU dilatarbelakangi oleh kecenderungan masyarakat modern mengonsumsi camilan secara berlebihan serta meningkatnya konsumsi makanan instan dan cepat saji.
Jenis makanan tersebut umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi, sementara kandungan seratnya relatif rendah. Pola konsumsi yang tidak seimbang apabila berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk sindrom metabolik.
Melalui KRILAKU, labu kuning diolah menjadi alternatif camilan yang lebih bernilai, baik dari sisi gizi maupun ekonomi. Labu kuning dipilih karena merupakan komoditas lokal yang relatif mudah ditemukan serta mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif, seperti karotenoid, beta-karoten, dan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah.
Selama ini, labu kuning kerap dipandang sebagai bahan pangan sederhana. Padahal, dengan pengolahan dan inovasi yang tepat, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Pengolahan labu kuning menjadi KRILAKU diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya ibu menyusui, untuk memiliki lebih banyak pilihan camilan yang berbahan pangan lokal.
Potensi untuk Mendukung Ibu Menyusui
Labu kuning juga memiliki kandungan zat gizi makro dan mikro yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu menyusui.
Produk tersebut dikembangkan sebagai salah satu alternatif camilan yang dapat mendukung pola makan sehat bagi ibu menyusui. Kandungan antioksidan seperti beta-karoten serta vitamin A, C, dan E juga menjadi nilai tambah dari bahan pangan tersebut.
Namun, KRILAKU tetap ditempatkan sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dan bukan sebagai pengganti makanan utama atau satu-satunya penentu kelancaran produksi ASI.
Bekal Kewirausahaan bagi Calon Lulusan
Pengembangan KRILAKU tidak hanya berorientasi pada aspek kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari pembekalan keterampilan kewirausahaan bagi calon lulusan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk mampu mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitar, termasuk persoalan pemenuhan gizi, kemudian mengubahnya menjadi gagasan produk yang bermanfaat sekaligus memiliki peluang ekonomi.
Dari sisi bisnis, keripik labu kuning dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan karena bahan bakunya relatif mudah ditemukan di daerah. Pengemasan dan strategi pemasaran yang tepat juga dapat meningkatkan nilai jual produk.
Dari Inovasi Akademik Menjadi Edukasi Masyarakat
Pengembangan KRILAKU menunjukkan bahwa kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Produk tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pangan lokal dapat ditransformasikan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang.
Ke depan, inovasi KRILAKU diharapkan dapat terus dikembangkan, baik dari sisi varian produk, kualitas pengemasan maupun pemasaran, sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga mendapatkan wawasan mengenai branding, pemasaran digital, dan peluang pengembangan usaha mikro.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka menilai pelatihan kewirausahaan tersebut memberikan bekal yang aplikatif dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin untuk mendukung pengembangan keterampilan serta peluang usaha.
Oleh: Aulia Fatmayanti, S.ST., M.Kes dan Ristiana, S.ST.
Dosen dan PLP
Prodi Kebidanan Blora Program Diploma Tiga
Poltekkes Kemenkes Semarang.
Blora, Rabu, 19 Agustus 2026.

