Edy Wuryanto : Akses Kesehatan, Mudah dan Terjangkau

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto, saat memberikan sambutan Launching I-Care JKN kolaborasi RS Mitra Bangsa Pati dan BPJS Kesehatan Cabang Pati, Selasa (12/9).

PATI, INFOMEDIA.ID.

Pemerintah menargetkan Universal Health Coverage (UHC) dalam waktu dekat. Artinya seluruh penduduk Indonesia harus terdaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Hal ini harus didukung seluruh kabupaten/kota.

Di Pati, baru 86,35 persen penduduknya yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Artinya baru 1.175.234 penduduk dari 1.361.068 penduduk yang mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini menurut Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto harus ditingkatkan.

“Saya menargetkan November harus bisa 95 persen. Pasti bisa,” katanya memberikan sambutan pada acara Launching I-Care JKN kolaborasi RS Mitra Bangsa Pati dan BPJS Kesehatan Cabang Pati, Selasa (12/9).

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto saat mengunjungi BPJS Kesehatan Cabang Pati, Selasa (12/9).
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto saat mengunjungi BPJS Kesehatan Cabang Pati, Selasa (12/9).

Edy menyebutkan bahwa UHC merupakan cita-cita Bangsa Indonesia. Sebab ini akan bermanfaat bagi masyarakat yang akan mengakses kesehatan dengan mudah dan terjangkau.

“UHC ini wujud negara hadir untuk setiap penduduk,” ujarnya.

Legiselator dari Dapil Jawa Tengah III ini mengungkapkan bahwa pemerintah Pati harus mampu mengejar UHC. Hal ini tentu dibantu oleh BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan.

Untuk itu Edy meminta agar Pj Bupati Pati menyelesaikan masalah Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan berkoordinasi langsung kepada Kementerian Sosial.

“Kalau ke Jakarta, sempatkan bertemu dengan Bu Menteri Sosial dan selesaikan masalah DTKS,” pinta Edy.

Dengan menyelesaikan DTKS, kata Edy, maka warga yang dianggap tidak mampu dapat menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibiayai pemerintah melalui APBN maupun APBD.

“Adanya UHC ini juga menguntungkan rumah sakit,” ungkap politisi PDI-Perjuangan ini.

Sebab pasien yang datang juga otomatis akan lebih banyak, masyarakat tidak akan takut untuk mengakses layanan kesehatan lagi.

Selanjutnya Edy berpesan agar ada transformasi dalam pelayanan rumah sakit. Yakni dengan melakukan digitalitasi dalam segala aspek. Contohnya adalah soal antrean online.

“Sehingga masyarakat tahu kapan dia harus datang ke rumah sakit. Tidak perlu antre lama,” ujarnya.

Edy menambahkan dengan adanya antrean online ini maka masyarakat dapat bekerja dahulu dan waktunya tidak dihabiskan di rumah sakit.

Meski Pati merupakan kota kecil, Edy yakin transformasi di bidang healthcare bisa terjadi, sehingga bisa jadi seperti Singapura atau Thailand.

“Tenaga kesehatan yang senior harus mau juga berubah. Digitalisasi ini tidak hanya pendaftaran online atau medical record saja. Bisa juga komunikasi pasien dengan dokter juga online (telemedicine),” ujar Edy. (Gun).