Blora (Info Media) – Bupati Blora Arief Rohman mendorong pendokumentasian pohon-pohon tua di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sebagai upaya melestarikan sejarah, menjaga ekologi, dan mengembangkan literasi lokal melalui pameran foto bernarasi.
“Sekarang ada 38 pohon, ke depan bisa menjadi 99 pohon. Penambahannya bisa mencakup pohon beringin Sepuh di Kecamatan Kedungtuban, Jati Denok, dan pohon-pohon lainnya,” kata Arief Rohman usai pembukaan pameran foto Merti Kayon Blora 2026 di Blora Creative Space (BCS), Kamis (22/10) malam.
Ia mengatakan hasil dokumentasi pohon-pohon tua tersebut dapat dibukukan dan diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya pelajar dan santri, sebagai sarana edukasi untuk mengenal kekayaan alam serta sejarah daerah.
Menurut dia, Kabupaten Blora memiliki potensi alam dan budaya yang luar biasa, termasuk pohon-pohon berusia lebih dari satu abad yang menyimpan cerita sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Arief berharap dokumentasi tersebut dapat dikembangkan sebagai bahan pembelajaran sekaligus memperkenalkan wisata edukasi, ekologi, dan literasi di Kabupaten Blora.
“Saya sangat mengapresiasi acara malam ini. Potensi yang kita miliki di Blora sangat luar biasa,” ujarnya.
Pameran bertema “Merawat Pohon Kehidupan, Menjaga Warisan Alam” itu diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora dengan menampilkan 38 foto pohon yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Blora.
Ketua Lesbumi PCNU Blora Dalhar Muhammadun mengatakan pendokumentasian tersebut diawali dengan inventarisasi partisipatif selama lebih dari sebulan yang melibatkan masyarakat untuk mendata pohon-pohon besar yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun.
“Kerja jurnalistik dan literasi dilakukan oleh para peserta sehingga hasilnya tidak hanya berupa foto, tetapi juga narasi lengkap tentang masing-masing pohon. Setiap pohon yang berusia lebih dari 100 tahun tentu menyimpan banyak cerita di baliknya,” katanya.
Ia menjelaskan narasi yang dihimpun mengungkap beragam kisah tentang pohon-pohon tua, mulai dari keterkaitannya dengan sendang dan sejarah setempat hingga peranannya dalam kehidupan sosial dan kegiatan kebudayaan masyarakat.
Beberapa pohon juga berkaitan dengan cerita rakyat serta menjadi habitat berbagai makhluk hidup, sehingga memiliki nilai penting dari sisi sejarah, budaya, dan ekologi.
Dari 38 foto beserta narasinya, panitia memilih 10 pohon terbaik untuk mendapatkan apresiasi berdasarkan dokumentasi dan cerita yang disampaikan.
Dalhar mengatakan Lesbumi PCNU Blora berencana membukukan hasil pendokumentasian tersebut dalam antologi pohon Blora sebagai upaya menyelamatkan jejak sejarah dan folklor atau cerita rakyat yang berkembang di sekitar pohon-pohon tua.
“Ke depan, karya-karya ini akan kita bukukan menjadi antologi pohon Blora. Di dalamnya ada informasi, data, dan narasi yang menjadi bagian dari upaya penyelamatan sejarah maupun folklor yang berpusat pada pohon-pohon tersebut,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan Merti Kayon dapat berlanjut pada penyelenggaraan berikutnya sehingga semakin banyak pohon tua di Kabupaten Blora yang terinventarisasi dan terdokumentasi secara terperinci.
Pohon-pohon yang didokumentasikan antara lain Pohon Beringin Tua di Situs Sigitan, Kecamatan Tunjungan; Pohon Wungu di Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Pohon Kepoh Sendang Mahbang dan Pohon Panggang Sendang Mahbang di Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon serta serta Pohon Beringin Sepuh di Pasar Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban.
Selain itu, terdapat Pohon Trembesi dan Pohon Kepoh Sendhang Mojokulon di Kecamatan Banjarejo; Pohon Kesambi Sendhang Kaliuloh di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban; Pohon Kepuh Brumbung di Desa Gagaan, Kecamatan Kunduran; Pohon Bolu di Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban; serta Pohon Pule Kedung Prau di Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken.
