Hadapi Medan Berat Papua, 449 Prajurit Yonif 410/Alugoro Kembali ke Markas

Hadapi Medan Berat Papua, 449 Prajurit Yonif 410/Alugoro Kembali ke Markas Hadapi Medan Berat Papua, 449 Prajurit Yonif 410/Alugoro Kembali ke Markas

Blora (Info Media) — Sebanyak 449 prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 410/Alugoro Blora, Jawa Tengah, kembali ke markas setelah menyelesaikan tugas pengamanan di Papua selama 12 bulan.

Selama penugasan, para prajurit menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga medan berupa pegunungan, sungai, dan hutan lebat.

Ratusan prajurit tersebut tiba di Markas Yonif 410/Alugoro, Kabupaten Blora, Senin (12/10) sekitar pukul 23.00 WIB. Kedatangan mereka disambut melalui upacara penyambutan pada Selasa (13/10) dini hari.

Komandan Yonif 410/Alugoro sekaligus Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Kewilayahan Papua, Letkol Inf Sudarmanto, mengatakan seluruh 449 prajurit kembali dengan selamat. Namun, satu prajurit asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, gugur saat menjalankan tugas negara di Papua.

“Dari total prajurit yang berangkat, sebanyak 449 anggota kembali dengan selamat. Namun, duka mendalam juga kita rasakan bersama karena satu anggota terbaik kita gugur saat menjalankan tugas negara di Papua,” ujar Sudarmanto seusai upacara penyambutan.

Ia menjelaskan, sebelum diterjunkan ke wilayah operasi, para prajurit menjalani latihan persiapan selama sekitar dua bulan. Setelah itu, mereka melaksanakan tugas operasi di Papua selama 12 bulan.

“Sebelum bertugas, kami sudah berangkat kurang lebih dua bulan untuk melaksanakan latihan tugas operasi dan latihan pratugas. Kemudian dilanjutkan 12 bulan kami melakukan tugas operasi,” katanya.

Menurut Sudarmanto, kondisi geografis Papua menjadi salah satu tantangan utama selama menjalankan tugas.

Perubahan cuaca yang sulit diprediksi serta wilayah yang didominasi pegunungan, sungai, dan vegetasi hutan lebat kerap menghambat pergerakan pasukan dalam melaksanakan operasi.

“Di sana iklim tidak menentu, kadang hujan, kadang kering. Lalu dengan adanya variasi wilayah, banyak sungai, banyak gunung, serta vegetasi hutan, itulah yang menghambat kegiatan operasi kita,” tuturnya.

Di tengah tantangan tersebut, para prajurit tidak hanya berfokus pada pengamanan wilayah perbatasan, tetapi juga melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat setempat.

Pendekatan humanis itu dilakukan untuk membangun kedekatan dengan warga sekaligus mendukung upaya menjaga stabilitas keamanan di wilayah penugasan.

Sudarmanto mengklaim, pendekatan tersebut turut mendorong 37 orang yang terafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk menyerahkan diri dan kembali menyatakan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari 37 orang tersebut, terdapat satu wakil komandan wilayah operasi, dua komandan batalion, dan 34 anggota. Dua komandan batalion itu disebut berasal dari Batalyon Ofir dan Batalyon Sair.

Prosesi penyerahan diri dan pernyataan kembali setia kepada NKRI tersebut dipimpin Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!