Blora (Info Media) — Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam pengelolaan dan penyimpanan bahan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, saat melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).
Temuan tersebut muncul di tengah laporan 141 orang dari tiga satuan pendidikan yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (7/9).
Kepala Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora Tutik Rahayu mengatakan sejumlah bahan makanan ditemukan tidak ditempatkan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Pada intinya kita tadi melihat tempat penyimpanan makanannya tidak sesuai SOP, tidak ada palet,” kata Tutik, Rabu (9/9/2026).
Petugas menemukan sisa air daging di lantai yang masih basah. Di dekatnya terdapat tumpukan beras, telur, timun, dan cabai yang tidak menggunakan palet.
Selain itu, sisa bumbu berupa bawang putih dalam kondisi terbuka, bawang merah, cabai merah yang telah digiling, dan lengkuas ditemukan diletakkan di atas wastafel. Di sampingnya terdapat sabun pencuci piring dan galon air mineral kosong.
“Selain itu, penerimaan bahan pangannya tidak ditempatkan sesuai tempatnya. Stok bahan makanan disimpan di rumah sebelah SPPG. Jadi masih harus banyak perbaikan di dapur itu,” ujarnya.
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah penempatan tempe tepat di depan pintu toilet dapur.
Menurut Tutik, bahan makanan harus disimpan di tempat khusus dan dijauhkan dari sumber yang berpotensi menyebabkan kontaminasi.
“Kalau di depan kamar mandi enggak boleh. Harus ada tempat penyimpanan bahan makanan. Itu semua bahan makanan harus ada tempatnya sendiri, ada gudangnya sendiri,” katanya.
Tutik juga membenarkan bahwa penempatan tempe di depan toilet berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri.
Selain penyimpanan bahan pangan, Dinkesda menemukan ruang penyimpanan ompreng yang penataannya terbuka ke atas dan belum sesuai SOP.
Di ruang dapur dan pemorsian belum tersedia sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS), serta belum terdapat ruang loading untuk bahan makanan matang.
SPPG Sukorejo 2 memiliki dua armada distribusi. Namun, kendaraan tersebut belum disekat, meskipun telah dilengkapi alat pemantau suhu, serta belum memiliki identitas SPPG.
Pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL), outlet belum dilengkapi bak kontrol sehingga masih menimbulkan bau. IPAL juga disebut hanya dioperasikan saat pencucian ompreng.
Petugas turut menemukan sampah yang masih menumpuk di samping dapur dan belum diangkut.
Dinkesda juga menemukan penggunaan minyak goreng curah. Tutik mengatakan penggunaan minyak curah tersebut tidak dianjurkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) karena bahan pangan untuk program MBG harus memenuhi standar yang ditetapkan.
“Kalau minyak curah, ini bukan dari kesehatan, tapi dari BGN sendiri tidak dianjurkan. Jadi harus yang standar atau premium,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah orang yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan terkait dugaan kejadian tersebut mencapai 141 orang. Rinciannya, 137 orang dari SMA Negeri 1 Tunjungan, tiga siswa SMP Al-Banjari, dan satu siswa SD IT.
Dari 137 orang di SMA Negeri 1 Tunjungan tersebut, satu di antaranya merupakan guru. Sebanyak 133 siswa masuk sekolah dan mengalami keluhan, sedangkan tiga siswa lainnya tidak masuk sekolah.
Sebelumnya, ratusan siswa SMA Negeri 1 Tunjungan mengalami keluhan berupa pusing, diare, dan muntah pada Selasa (8/9), sehari setelah mengonsumsi menu MBG.
Pihak sekolah kemudian tidak membagikan menu MBG kepada siswa menyusul banyaknya laporan keluhan kesehatan tersebut.
Dinkesda masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa. Temuan ketidaksesuaian pengelolaan pangan di SPPG tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kejadian.
